Jalan-Jalan ke Stasiun Tanjung Priok

Stasiun Tanjung Priok merupakan sebuah stasiun kereta api yang letaknya berdekatan dengan sebuah pelabuhan kapal laut dan terminal bus dengan nama yang sama. Tapi, berbeda dengan Pelabuhan dan Terminal Bus Tanjung Priok, Stasiun Tanjung Priok bukan tempat aktivitas penumpang yang ramai. Bagaimana tidak, hanya ada satu pilihan perjalanan kereta penumpang yang datang dan pergi di stasiun tersebut, yaitu commuter line rute Jakarta Kota-Tanjung Priok, itupun baru mulai dioperasikan sejak 21 Desember 2015 yang lalu dan hanya melayani dua belas kali perjalanan setiap harinya (enam kali dari arah Priok dan enam kali dari arah Kota). Bukan rute yang ramai layaknya Jakarta Kota-Bogor atau Bekasi. Tapi, justru dengan sedikitnya kereta yang menuju stasiun tersebut, keindahan arsitektur stasiun dapat dinikmati tanpa perlu takut terganggu banyaknya penumpang yang hilir mudik, bahkan bisa dimanfaatkan untuk moment foto-foto dengan ‘damai’. Setidaknya, itu yang saya rasakan ketika mengunjungi Stasiun Tanjung Priok hari Sabtu yang lalu (07 Mei 2016).

Bersama dengan kedua orang tua dan adik, saya memanfaatkan liburan long weekend yang lalu dengan mendatangi Jakarta. Dalam rencana awal kami, tidak ada agenda mengunjungi Stasiun Tanjung Priok. Ide tersebut baru terlintas di pikiran saya ketika, setiba di Jakarta, saya melihat postingan dari seorang teman di Path, yang berisi sebuah foto di Stasiun Tanjung Priok. Langsung saja saya menyampaikan keinginan saya untuk pergi ke sana. Awalnya minat dari anggota keluarga yang lainnya bisa dibilang sangat kurang, karena diantara kami hanya saya saja yang adalah penggemar kereta api (railfan). Padahal, saya ingin ke sana bukan karena alasan hobi, tapi karena ingin menikmati keindahan buah tangan Ir. C.W. Koch tersebut. Lagi pula, sebelum berangkat liburan, adik saya mengutarakan keinginannya untuk berfoto di tempat-tempat yang belum pernah dikunjunginya di Jakarta. Menurut saya, Stasiun Tanjung Priok jelas memenuhi kriteria tersebut. Saya saja yang jarang selfie, ingin sekali melakukannya di stasiun tersebut. Akhirnya, setelah saya menunjukkan beberapa foto Stasiun Tanjung Priok, semuanya setuju untuk bertamasya ke stasiun tersebut. Setelah mengecek jadwal commuter line rute Kota-Priok, kami memutuskan naik kereta jam 11:40 dari Stasiun Beos.

Hari Sabtu yang telah ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba juga. Dengan memperhitungkan segala kemungkinan hambatan perjalanan dari Gondangdia menuju Beos (hotel tempat kami menginap berada tidak jauh dari Stasiun Gondangdia), kami memutuskan berangkat sekitar pukul 10:20 dari hotel. Saat itu, perjalanan kereta ke arah Manggarai terhambat cukup parah. Kereta api Argo Parahyangan, yang berangkat pukul 10:15 dari Gambir, berhenti cukup lama di Stasiun Gondangdia. Hingga commuter line yang kami tumpangi menuju Stasiun Kota berangkat, kereta tujuan Bandung itu tak kunjung bergerak. Di belakang KA Argo Parahyangan, banyak rangkaian KRL yang juga terhenti. Bahkan, di Stasiun Gambir, ada dua rangkaian commuter line tujuan Bogor yang berhenti di jalur 3 dan 4. Antrian KRL ke arah Manggarai mengular sampai dengan Stasiun Mangga Besar. Beruntung saat itu kami tidak mengalami hambatan apapun; perjalanan dari Stasiun Gondangdia sampai Stasiun Jayakarta berjalan lancar. Barulah ketika akan masuk ke Stasiun Kota, kereta yang kami tumpangi tertahan di sinyal masuk. Berhentinya pun cukup lama, sekitar 15 atau 20 menit. Untung saja kami berangkat lebih awal, sehingga akhirnya kami bisa tiba di Stasiun Kota sekitar pukul 11:10. Memang masih harus menunggu sekitar 30 menit, tapi jauh lebih baik dibanding tiba pas-pasan, apalagi terlambat dari jadwal keberangkatan kereta ke Priok.

Singkat cerita, menjelang pukul 11:30, satu set KRL INKA-Bombardier i9000 (nomor seri K1 1 11 21-24) masuk di jalur 8. Menurut pengumuman, rangkaian kereta buatan dalam negeri itu akan mengantarkan penumpang menuju Stasiun Tanjung Priok. Menjelang keberangkatannya, sejumlah penumpang berlarian ke peron jalur 8, takut ketinggalan kereta yang hanya ada setiap 1,5-2 jam sekali itu. Ketika berangkat tepat pukul 11:40, kereta tidak terisi penuh. Berbeda sekali dengan pemandangan saat kami melakukan perjalanan dari Gondangdia ke Beos, di mana kami baru dapat tempat duduk saat meninggalkan Stasiun Sawah Besar.

Rangkaian KRL i9000

Rangkaian KRL i9000 yang melayani rute Jakarta Kota-Tanjung Priok (Pink Line)

KRL Jakarta Kota-Tanjung Priok

Penumpang KRL Kota-Priok, tidak seramai di rute lainnya

Di Stasiun Kampung Bandan (peron atas), tidak banyak penumpang yang naik, bahkan di kereta paling belakang tempat kami duduk, tidak ada penambahan jumlah penumpang. Aktivitas di peron atas Stasiun Kampung Bandan memang tidak seramai di peron bawah, yang melayani commuter line rute Jatinegara-Depok/Bogor dan feeder tujuan Jakarta Kota.

Peron bawah Stasiun Kampung Bandan

Peron bawah Stasiun Kampung Bandan, dilihat dari KRL rute Kota-Priok (lewat jalur atas)

Selepas Kampung Bandan, kereta berjalan tanpa henti, termasuk di Stasiun Ancol, kereta yang kami tumpangi tidak berhenti, karena memang tidak ada satupun kereta dari/ke Priok yang berhenti di stasiun tersebut. Perjalanan kami sempat terhenti sejenak di sinyal masuk Stasiun Tanjung Priok, entah karena alasan apa. Akibat tertahan sinyal masuk, KA 2318 tiba di Stasiun Tanjung Priok pukul 12:02, terlambat dua menit dari jadwal seharusnya. Akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Khusus untuk saya, moment tersebut menjadi ‘prestasi’ tersendiri bagi saya, karena pada akhirnya saya berhasil melengkapi daftar stasiun besar di Jakarta yang pernah saya kunjungi (sebelumnya saya sudah pernah menginjakkan kaki di Stasiun Tanah Abang, Stasiun Manggarai, Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Pasar Senen, Stasiun Jatinegara, dan tentunya Stasiun Gambir). Sampai dengan saat itu, Stasiun Tanjung Priok menjadi satu-satunya stasiun besar di Jakarta yang belum pernah saya datangi.

Peron Stasiun Tanjung Priok

Peron Stasiun Tanjung Priok, dengan KRL tujuan Jakarta Kota di jalur 2

Berbekal surat permohonan izin memotret, kami akhirnya memuaskan diri berfoto-foto di sejumlah sudut di dalam stasiun, mulai dari ruang kosong di antara loket tiket kereta dengan peron, sampai dengan di peron sendiri. Tapi, selama kami asyik berfoto-foto, tidak ada satupun petugas yang datang menanyakan soal surat izin yang saya maksudkan. Malahan, seorang petugas PT KAI dan seorang petugas keamanan stasiun bersedia diminta bantuannya mengambil foto kami berempat tanpa menyinggung soal surat izin. Kami pun bisa foto-foto dengan ‘damai’, tanpa terganggu keramaian wisatawan layaknya di objek-objek wisata yang tergolong mainstream.

Oh ya, sedikit menyinggung soal surat izin. Bukan tanpa sebab saya mempersiapkan surat permohonan izin memotret itu. Berdasarkan pengalaman di Stasiun Bandung dan Stasiun Manggarai, ketika saya dilarang foto-foto karena tidak membawa surat izin, membuat saya tidak ingin mengulangi ‘insiden’ serupa terjadi. Apalagi, dengan menyandang status sebagai cagar budaya dan tidak jarang digunakan untuk shooting adegan iklan sampai video klip lagu, saya berpikir persyaratan memotret di Stasiun Tanjung Priok akan lebih ketat dibandingkan stasiun lainnya. Tapi ternyata, yang saya alami saat itu berkebalikan dengan yang saya prediksikan. Setidaknya untuk saat itu, tidak ada petugas yang menanyakan soal surat izin. Meski demikian, saya tetap menyarankan, bagi yang ingin foto-foto di lingkungan Stasiun Tanjung Priok, untuk menyiapkan surat permohonan izin memotret. Kalau sampai tiba-tiba ditanyakan, setidaknya sudah disiapkan terlebih dahulu. Daripada lagi asyik-asyik selfie, terus ditegur petugas.

Singkat cerita, waktu 30 menit yang ada sejak kami tiba dan harus kembali naik kereta ternyata terasa sangat singkat. Baru setelah kembali ke hotel, kami menyesal belum sempat berfoto di bagian luar stasiun, yang sebenarnya juga tak kalah kerennya dengan bagian dalam stasiun. Bahkan saya sendiri lupa untuk melakukan selfie di peron stasiun (saya hanya melakukan hal serupa di ruang tengah stasiun dan di depan rangkaian kereta yang mengangkut kami, tapi tidak di peron dengan atap lengkung stasiun yang khas). Sepertinya perlu dilakukan kunjungan untuk kali kedua ke Stasiun Tanjung Priok.

Sekian cerita jalan-jalan ke Stasiun Tanjung Priok. Sebagai penutup, berikut sejumlah foto lainnya yang saya ambil ketika berada di stasiun tersebut…

Lobby Stasiun Tanjung Priok

Lobby Stasiun Tanjung Priok, memisahkan area loket dengan peron

Area peron Stasiun Tanjung Priok

Area peron Stasiun Tanjung Priok dilihat dari arah lobby, atap melengkung yang berada cukup tinggi dari peron menambah kesan luas stasiun ini

KA Kertajaya di Stasiun Tanjung Priok

Rangkaian KA Kertajaya, siap dilangsir dari Stasiun Tanjung Priok menuju Stasiun Pasar Senen

Advertisements

8 responses to “Jalan-Jalan ke Stasiun Tanjung Priok

  1. untuk ijin apakah diperlukan biaya?
    dulu sewaktu search ‘foto prewed di stasiun’ menemukan kalo dibeberapa stasiun diharuskan untuk ijin terlebih dulu, ada juga yang malah tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar dengan kamera DSLR.

    stasiun Tj.Priok sepi ya ternyata, bagus buat refreshing 😀

    Like

    • kalo dari pengalaman saya, setiap kali ijin foto di stasiun (Bandung) cukup membuat surat permohonan ijin saja, nggak ada pungutan biaya apapun. di beberapa stasiun lain yang pernah saya datangi, ada yang tidak menanyakan tentang surat ijin. baru di Bandung dan Manggarai saja saya ditanyakan soal surat ijin memotret…

      hanya saja, mungkin, kalo untuk tujuan tertentu, ada yang dipungut biaya. karena selama ini saya selalu minta ijinnya untuk foto koleksi pribadi, baik itu menggunakan DSLR atau bukan. pernah juga suatu kali saya minta ijin fotonya untuk diposting di sebuah forum railfans, saat suratnya diberikan saya tidak diminta biaya apapun…

      Like

    • kalo dari pengalaman di stasiun-stasiun lain, surat izin fotonya ditujukan kepada kepala stasiun setempat. biasanya nanti akan langsung diberi paraf acc di lembar surat tersebut atau diisikan form lain oleh kepala stasiun. nanti kalo ditanyakan pihak keamanan soal izin foto, tinggal ditunjukkan surat yang telah di-acc atau form yang berkaitan…

      Like

  2. mau tanya, surat izin ini kita yang buat (dipersiapkan sebelumnya) lalu di-acc ka. stasiun atau surat izin sudah dipersiapkan oleh pihak stasiun kemudian kita yg meminta? terima kasih

    Like

    • utk surat izinnya kita yg buat, lalu nanti di-acc oleh kepala stasiun. bentuk acc bisa berupa tanda tangan di lembar surat atau dibuatkan surat keterangan dari kepala stasiun berdasarkan surat yg kita berikan…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s