Ulasan Kereta Api Argo Parahyangan

Kereta api Argo Parahyangan merupakan satu-satunya kereta api komersial yang melayani rute Bandung-Jakarta PP. Di balik peluncurannya pada 27 April 2010, tersimpan cerita sedih. Bagaimana tidak, kereta kelas Eksekutif dan Bisnis ini dioperasikan setelah dua kereta api lainnya berhenti beroperasi.

KA Argo Parahyangan merupakan hasil ‘peleburan’ antara KA Argo Gede dengan KA Parahyangan, yang berhenti beroperasi akibat membuat PT KA rugi hingga 36 miliar rupiah. Pada saat pertama kali meluncur, KA Argo Parahyangan terdiri dari kereta kelas Eksekutif eks KA Argo Gede dan kereta kelas Bisnis eks KA Parahyangan, menjadikannya satu-satunya rangkaian KA dengan branding Argo yang juga membawa kereta kelas Bisnis. Penamaan KA Argo Parahyangan pun bisa dibilang menyimpang dari kebiasaan penamaan kereta kelas Eksekutif Argo. Hal itu disebabkan kata Argo berasal dari bahasa Jawa yang berarti gunung, sehingga biasanya diambil nama gunung yang berada di Pulau Jawa (Argo Gede, Argo Bromo, Argo Lawu, dst.), sedangkan tidak pernah ada gunung yang dinamakan Parahyangan. Meski demikian, sebelum KA Argo Parahyangan hadir, sudah ada dua kereta lainnya dengan kasus penamaan yang serupa: KA Argo Dwipangga (hasil peningkatan layanan KA Dwipangga) dan KA Argo Jati (mengacu pada tokoh Sunan Gunung Jati). Adapun alasan di balik penamaan ‘Argo Parahyangan’, tidak lain atas permintaan para pengguna setia KA Bandung-Jakarta yang tidak ingin kehilangan nama Parahyangan yang telah melekat dengan kereta di rute tersebut.

Tiket KA Argo Parahyangan

Argo Parahyangan, penamaan yang digunakan sejak 27 April 2010 sampai sekarang

Nama ‘Parahyangan’ (atau Priangan) sendiri merujuk pada tempat para hyang bersemayam (para-hyang-an), hal tersebut sesuai dengan kepercayaan masyarakat Sunda kuno di mana roh leluhur atau para dewa menghuni tempat-tempat yang tinggi, seperti daerah pegunungan. Sebagian besar wilayah Provinsi Jawa Barat saat ini, khususnya yang dilalui jalur kereta api Bandung-Jakarta, memang identik dengan pegunungan. Bahkan, lebih dari itu, jalur kereta api yang membentang dari Purwakarta hingga Banjar saat ini dianggap sebagai salah satu jalur kereta api tereksotis di Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan legenda Sunda yang menyatakan bahwa bumi Priangan tercipta ketika para dewa tersenyum. Keindahan kontur alam di sepanjang jalur kereta api tersebut tidak hanya memikat para pengguna kereta api, tapi juga para penggemar kereta api (railfans) yang hobi fotografi. Banyak spot eksotis menanti di sepanjang jalur kereta api yang masuk dalam Daerah Operasi (DAOP) II Bandung tersebut.

KA Argo Parahyangan di Jembatan Cimacan

KA Argo Parahyangan meliuk saat akan menyeberangi Jembatan Cimacan

Kembali membahas KA Argo Parahyangan. Pada awal pengoperasiannya, kereta Bandung-Jakarta ini tersedia dalam dua kelas pelayanan, yaitu Eksekutif dan Bisnis. Seiring berjalannya waktu, ternyata permintaan penumpang di rute tersebut lebih mengarah kepada layanan kelas Eksekutif, sehingga sejak awal tahun 2012 PT KAI DAOP II Bandung mengubah pola kelas pelayanan pada delapan dari dua belas perjalanan KA Argo Parahyangan, dari semula dua kelas menjadi satu kelas saja, yaitu kelas Eksekutif, sama seperti KA Argo Gede dahulu. Sisa empat perjalanan lainnya, tetap mempertahankan konfigurasi dua kelas.

KA Argo Parahyangan di Stasiun Cilame

KA Argo Parahyangan full kelas Eksekutif saat melintas di Stasiun Cilame

Tahun 2013, PT KAI secara bertahap mendatangkan 100 unit lokomotif jenis CM20EMP langsung dari pabrik General Electric di Amerika Serikat, yang disebar ke berbagai dipo lokomotif di Pulau Jawa. Awalnya ditujukan untuk operasional angkutan barang, pada musim angkutan Lebaran 2013 lokomotif yang di Indonesia diberi kode CC 206 tersebut mulai digunakan untuk dinas angkutan kereta kelas Eksekutif dan Bisnis, tak terkecuali KA Argo Parahyangan. Sekitar tahun 2014, CC 206 dijadikan lokomotif standar KA Argo Parahyangan, selain untuk menggantikan armada CC 201 dan 203, juga memudahkan masinis yang menjalankan KA Argo Parahyangan: berkat design double cabin, lokomotif tidak perlu diputar untuk mendapatkan posisi kendali shorthood, hal yang tidak dapat dilakukan untuk lokomotif KA Argo Parahyangan sewaktu berpindah posisi jalan di Stasiun Gambir jika menggunakan lokomotif single cabin seperti CC 201 atau 203.

KA Argo Parahyangan dan CC 206

KA Argo Parahyangan dengan lokomotif penarik jenis CC 206/GE CM20EMP

Dibandingkan dengan kereta kelas Eksekutif lainnya milik dipo kereta Bandung, KA Argo Parahyangan dianggap memiliki interior yang paling keren. KA Argo Parahyangan menggunakan kereta Eksekutif seri K1-02, yang dilengkapi dengan pintu geser otomatis, TV LCD, serta model kursi standar KA kelas Eksekutif Argo (khusus kereta buatan PT INKA), satu-satunya ‘pesaing’ KA Argo Parahyangan di dipo Bandung hanyalah KA Argo Wilis, yang juga dilengkapi fasilitas serupa (KA Lodaya dan Malabar baru mendapat fasilitas TV pada tahun 2016 ini, sebelumnya tidak dilengkapi TV). Namun, rangkaian KA Argo Parahyangan lebih lengkap dengan adanya meja lipat di setiap kursi, sedangkan pada rangkaian KA Argo Wilis (seri K1-98) entah karena alasan apa seluruh meja lipatnya dicabut.

K1-02524 BD

K1-02524 sebagai kereta Eksekutif KA Argo Parahyangan dengan lampu kabin LED

Untuk masalah penerangan kabin, pada K1-02 yang digunakan untuk KA Argo Parahyangan tersedia dua jenis lampu, yaitu lampu LED tepat di atas koridor tengah kereta (foto di atas), atau lampu neon yang ‘disembunyikan’ di atas ruang bagasi penumpang, dekat kisi-kisi pendingin udara (foto bawah).

K1-02504 BD

K1-02504 sebagai kereta Eksekutif KA Argo Parahyangan dengan lampu kabin neon

Sayangnya, poin plus tersebut saat ini tidak lagi menjadi eksklusivitas rangkaian KA Argo Parahyangan. Rotasi antara rangkaian KA Argo Parahyangan dengan KA Argo Wilis tidak jarang membuat KA Argo Parahyangan membawa K1-98 milik Argo Wilis yang tidak ada meja lipatnya itu. Apalagi jika kebagian jatah bepergian dengan perjalanan KA Argo Parahyangan tertentu yang menggunakan rangkaian idle KA Harina atau KA Turangga, yang tingkat kenyamanannya menurut saya belum dapat menyaingi kenyamanan rangkaian asli KA Argo Parahyangan (K1-02). Lain cerita jika mendapat jatah KA Argo Parahyangan dengan rangkaian idle KA Gajayana (K1-09), bisa dibilang dalam segi kenyamanan hampir tidak ada perbedaan signifikan dengan yang ditawarkan rangkaian asli KA Argo Parahyangan, disebabkan rangkaian KA Gajayana tersebut dibuat dengan standar KA kelas Eksekutif Argo (efek dari durasi perjalanan Jakarta-Malang yang sangat panjang).

Tapi, terlepas dari aspek kenyamanan yang berkurang, pemanfaatan rangkaian idle KA Harina, Turangga, dan Gajayana dapat mendongkrak frekuensi perjalanan KA Argo Parahyangan, dari sebelumnya hanya 12 kali dalam sehari pada tahun 2010, menjadi hingga 18 kali dalam sehari pada tahun 2016, yaitu ketika akhir minggu atau hari libur nasional tiba (di hari kerja, frekuensi perjalanan KA Argo Parahyangan saat ini mencapai 14 kali dalam sehari). Dengan adanya tambahan perjalanan kereta api tersebut, calon penumpang bisa mendapatkan tambahan pilihan waktu keberangkatan dan kedatangan kereta, serta jumlah penumpang yang dapat diangkut menjadi lebih banyak.

Sebagai penutup, berikut saya lampirkan jadwal terbaru KA Argo Parahyangan, sesuai perubahan terakhir yang berlaku mulai 01 Maret 2016.

Jadwal KA Argo Parahyangan Bandung-Gambir

Jadwal KA Argo Parahyangan Bandung-Gambir (berlaku sejak 1 Maret 2016)

Jadwal KA Argo Parahyangan Gambir-Bandung

Jadwal KA Argo Parahyangan Gambir-Bandung (berlaku sejak 1 Maret 2016)

Sekian ulasan singkat mengenai KA Argo Parahyangan.

Catatan Penulis:

Sebenarnya ulasan ini rencananya diposting pada 27 April 2016, bertepatan dengan 6 tahun beroperasinya KA Argo Parahyangan. Namun, karena sesuatu hal, ulasan ini baru dapat diposting hari ini (28 April 2016).

Advertisements

One response to “Ulasan Kereta Api Argo Parahyangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s