Menjauh Sejenak dari Hiruk Pikuk Kota Bandung

Yap, sesuai judulnya, ini hanyalah sebuah perjalanan singkat untuk menjauhkan diri sejenak dari kesibukan kota seramai Bandung. Lalu, kenapa bukan perjalanan ‘singkat’ menggunakan tiket promo Gong Xi Fa Cai? Alasannya ada dua, dan cukup sederhana:

  1. Tidak adanya waktu yang cukup untuk joyride ke luar kota;
  2. Tidak cukup uang untuk perjalanan KA jarak sedang/jauh, sekalipun dengan tarif promo, uang yang ada hanya cukup untuk perjalanan satu arah.

Karena dua alasan itulah, kali ini saya memilih untuk jalan-jalan naik kereta lokal saja. Cukup 8 ribu rupiah saja, sudah bisa pergi dan pulang. Toh, yang penting sudah bisa melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk Parijs van Java. Mungkin lain kali, kalau sudah tersedia waktu dan uang yang cukup, baru akan mewujudkan impian berkeliling Pulau Jawa yang (masih) tak kunjung terwujud…

Okay, nggak perlu bikin prolog sepanjang rute KA Gajayana, langsung saja masuk ke dalam cerita perjalanan yang sama pendeknya dengan jarak perjalanan KA Lokal Bandung Raya. Seperti namanya, kereta lokal yang satu ini melintasi daerah Bandung Raya, yang diwakili oleh stasiun-stasiun seperti Padalarang (Kabupaten Bandung Barat), Cimahi (Kota Cimahi), Bandung dan Kiaracondong (Kota Bandung), serta Rancaekek dan Cicalengka (Kabupaten Bandung). Tarif sekali jalannya bervariasi antara empat sampai lima ribu rupiah, tergantung jarak. Karena letaknya berada di tengah-tengah perjalanan, maka setiap penumpang yang naik dan/atau turun di Stasiun Ciroyom, Bandung, Cikudapateuh, Kiaracondong, dan Cimekar dipastikan cukup membayar tiket seharga Rp. 4.000,- saja. Sedangkan untuk yang ingin naik dari ujung yang satu ke ujung yang lain, harus membayar tarif penuh sebesar Rp. 5.000,- sesuai yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan nomor PM 17 Tahun 2015 mengenai kontrak Public Service Obligation (PSO) tahun 2016.

Tiket KA Lokal Bandung Raya (Bandung-Cicalengka)

Tiket KA Lokal Bandung Raya, Bandung-Cicalengka 4 ribu rupiah saja…

Singkat cerita, rangkaian KA Lokal yang akan saya tumpangi tiba di Stasiun Bandung tepat pukul 07:30, tetapi baru diberangkatkan pukul 07:37, setelah pemberangkatan KA Argo Parahyangan tujuan Gambir dua menit sebelumnya. Perjalanan berlangsung dengan lancar. Oh ya, kondisi kereta saat itu tidak terlalu penuh, karena kebanyakan penumpang dari arah Padalarang sudah turun di Stasiun Bandung ataupun stasiun-stasiun sebelumnya. Yang naik dari Bandung ke arah timur pun tidak terlalu banyak. Begitu tiba di Kiaracondong, kereta tambah sepi karena lebih banyak penumpang yang turun daripada yang naik. Maklum, di pagi hari arus penumpang jelas lebih terfokus pada kereta yang mengarah masuk ke Kota Bandung, bukannya keluar seperti yang saya lakukan saat itu.

Di luar jadwal, KA Lokal yang saya tumpangi berhenti luar biasa di Stasiun Gedebage, stasiun yang hanya melayani pemberhentian normal kereta peti kemas dari Jakarta, serta (kalau ada) persilangan kereta penumpang. Dari pembicaraan antara petugas pengamanan kereta api dengan salah seorang petugas PT KAI, katanya KA Lokal yang saya tumpangi akan menunggu bersilang dengan dua kereta sekaligus: Lokal dari Cicalengka dan Malabar dari Malang. Tapi ternyata kami tidak menunggu sangat lama, karena hanya menunggu bersilang dengan sesama kereta rakyat.

Maju satu petak, KA Lokal tujuan Cicalengka kembali minggir di jalur belok Stasiun Cimekar. Kali ini, dipastikan akan menunggu bersilang dengan KA Malabar. Kereta tiga kelas dari Kota Malang tersebut baru lewat pukul 08:20, setelah menahan perjalanan KA Lokal selama kurang lebih 10 menit di Stasiun Cimekar.

KA Malabar di Stasiun Cimekar

KA Malabar (loko CC 206 94 BD) melintas langsung Stasiun Cimekar

Setelah persilangan tersebut, KA Lokal yang saya tumpangi melanjutkan perjalanannya, dan setelah berhenti di Stasiun Rancaekek dan Haurpugur, mengakhiri perjalanannya di Stasiun Cicalengka sekitar pukul 08:40. Awalnya, saya ingin berjalan menuju tikungan besar (tiber) yang tidak terlalu jauh letaknya dari Stasiun Cicalengka untuk merekam perjalanan KA Argo Wilis tujuan Surabaya di tempat tersebut, tapi karena rasa malas dan takut terlambat tiba di spot yang saya inginkan, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil gambar kereta kelas eksekutif tersebut dari atas jembatan penyeberangan dekat stasiun. Walau akhirnya saya merasa kurang puas dengan hasil pengambilan gambar dari atas JPO, keputusan tersebut setidaknya membuat saya aman untuk mengejar jadwal KA Lokal yang berangkat pukul 09:45.

KA Argo Wilis di Stasiun Cicalengka

KA Argo Wilis (loko CC 203 05 BD) melintas langsung Stasiun Cicalengka

Selesai memotret KA Argo Wilis, saya berjalan kembali menuju Stasiun Cicalengka. Saat menunggu loket KA Lokal dibuka, calon penumpang terus-menerus bertambah. Di situlah saya merasa bersyukur tidak jadi pergi ke tiber Cicalengka, karena bisa saja saya kehabisan tiket KA Lokal pemberangkatan pukul 09:45, karena kereta berikutnya baru akan berangkat 1 jam kemudian. Andai saja jaraknya hanya 30 menit, saya bersedia menunggu kereta berikutnya jika kehabisan tiket kereta jam 09:45.

Begitu akhirnya rangkaian yang akan saya tumpangi tiba dari Padalarang, saya sempat berharap bisa secepatnya masuk ke dalam kereta sebelum KA Mutiara Selatan lewat. Tapi apa daya, ternyata begitu petugas keamanan akan membuka gerbang, PPKA Stasiun Cicalengka menahan rencana tersebut karena rangkaian kereta kelas bisnis dari Surabaya tersebut sudah melewati sinyal muka dari arah timur. Alhasil, saya hanya bisa merekam kereta tersebut dari balik pagar pembatas peron, ditambah terhalang tiang-tiang penyangga atap stasiun…

KA Mutiara Selatan di Stasiun Cicalengka

KA Mutiara Selatan (loko CC 203 06 BD) melintas langsung Stasiun Cicalengka

Setelah KA Mutiara Selatan lewat, barulah penumpang KA Lokal diperbolehkan naik ke dalam kereta yang tersedia di jalur 3. Begitu kereta berangkat, jumlah penumpang yang naik kereta yang sama dengan saya terlihat jauh lebih banyak dibanding saat perjalanan menuju Cicalengka. Hampir semua kursi terisi penuh, pertanda tiket hampir terjual habis. AC di dalam kereta pun sampai terasa hangat sekalipun indikator suhunya menunjukkan angka 18, saking penuhnya kereta. Saat itu, berdiri di bordes atau di dalam toilet (yang kacanya terbuka) dapat dipastikan akan terasa lebih adem dibanding duduk di dalam kereta yang jendelanya tertutup rapat.

Dikarenakan kepengapan yang dirasakan sepanjang perjalanan dari Cicalengka, suhu panas tapi didukung hembusan angin yang saya rasakan setiba kembali di Kota Bandung malah jadi terasa lebih adem. Ditambah lagi begitu akhirnya saya bisa naik ke dalam bus Damri tujuan Dipati Ukur, saya akhirnya memilih berdiri di bawah hembusan AC di saat tersedia kursi kosong (selain karena alasan kursi yang kosong merupakan kursi prioritas).

Jadi, itulah cerita singkat saya menjauh sejenak dari hiruk-pikuk Kota Bandung menggunakan Kereta Api Lokal Bandung Raya. Sebagai penutup, berikut video kompilasi kereta api yang saya rekam sewaktu berada di Stasiun Cimekar dan Cicalengka.

Sampai berjumpa di laporan perjalanan selanjutnya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s